Sejarah Bela Negara

Sejarah Bela Negara



Ketika Yogyakarta jatuh ketangan Belanda, Syafrudding Prawiranegara membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia atau PDRI pada tanggal 19 Desember 1948 di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat yang ditunjuk sebagai iu kota Indonesia. Sebelum Belanda datang, kota Bukittinggi merupakan sebuah pasar (pekan) bagi masyarakat Agam Tuo. Setelah Belanda datang, kota ini menjadi kubu pertahanan untuk melawan kaum padri. Pada tahun 1825, Belanda mendirikan sebuah banteng yang sekaligus menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir belanda yang ada di wilayah jajahan mereka, enteng tersebut disebut sebagai benteng Fort de Kock. 

Kota Bukittinggi ini ditunjuk sebagai ibu kota negara setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda karena memiliki sejarah yang panjang. Seperti ketika masa pemerintahan Hindia-Belanda, kawasan tersebut selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan yang kamudian berkembang menjadi stadsgemeente atau kota, juga berfungsi sebagai ibu kota Afdeeling Padangsche Bovenlanden dan Onderafdeeling Oud Agam.

Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 28 tahun 2006, pada tanggal 19 Desember, peristiwa ditunjuknya Bukittinggi sebagai ibu kota negara ini menjadi sebuah peringatan sebagai hari bela negara. Bukan hanya itu, sebagai kenangan sejarah perjuangan PDRI, pemerintah Republik Indonesia membangun Monumen Nasional Bela Negara di salah satu kawasan yang pernah menjadi basis PDRI dengan area seluas 40 hektare, di Jorong Sungai Siriah, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

 

Komentar